Jumat, 29 Maret 2013

Si Musafir Di Persimpangan Jalan: Membaca Puisi-Puisi Syukur A. Mirhan


Oleh: Wahyu Arya

Jika ada sebuah jalan bercabang dan Si Musafir berdiri di antara keduanya, pilihan jalan yang satu tentu akan menggugurkan jalan yang lain. Begitu pula dengan jalan yang ditempuh Syukur A. Mirhan (selanjutnya SAM) di awal kepenyairannya.  Ia lebih memilih jalan sunyi. Si Musafir, begitu berulangkali ia menyebut dirinya, lebih gandrung pada yang hening-tenang. Pada jalan itu pula, ia menemukan dirinya sendiri. Ke-diri-an pun utuh manakala suara-suara, hiruk pikuk kehidupan di luar diri banyak mengalihkan dari Kekasih atawa Sang Penatap. Sampai di sini, kenalilah diri maka kamu akan mengenal Tuhanmu, benar ketika Si Musafir selalu dalam keadaan ingat akan tujuan perjalanannya.

KEMBANG TUJUH RUPA MENGERING DI PASAR LAMA

EMPAT meja kecil bertabur kembang tujuh rupa. Saya berusaha melihat lebih dekat jenis kembang yang ada di atasnya. Si penjual hanya tersenyum ramah melihat dagangannya diperhatikan sedemikian rupa. Katil, mawar, melati, kenanga, kembang kertas, sedap malam, dan kamboja.

Sabtu, 23 Maret 2013, siang yang panas, tangan Munah (52) masih menusukkan jarum ke kelopak kembang menjadi untaian seperti kalung manik-manik di dada perawan.
Perempuan yang akrab disapa ‘Bu Mun’ ini mengenakan kebaya merah. Dari usia, Bu Mun lebih tua dibanding rekan penjual kembang lainnya.

Kamis, 28 Maret 2013

Midnight in Paris : Saat Woody Allen Menjungkirbalikkan Waktu

Apa kamu punya pengalaman tengah malam yang mengagumkan di Paris? Hmm kalau belum pernah, saya kasih rekomendasi film yang bisa kamu tonton untuk bisa merasakan indahnya tengah malam di Paris.

Yah, Midnight in Paris. Film yang satu ini disutradarai oleh Woody Allen, Sutradara multi-talen yang bernama lengkap Allen Stewart Konigsberg juga merupakan aktor, penulis, musikus (klarinet), dan pelawak yang cerdas. Allen adalah salah seorang sutradara paling berpengaruh pada zaman modern berkat film-filmnya yang cenderung menggarap isu intelektual. Seringkali ia turut berakting dalam film-film arahannya. Yang menjadi inspirasi Allen antara lain sastra, filsafat, psikologi, dan lain-lain. Annie Hall adalah film Woody Allen yang paling terkenal di tanah air.

Melalui *Midnight in Paris *(2011) ini, Allen kemabali membuktikan kepiawaiannya dalam menggarap film serius namun tidak kehilangan mood untuk ditonton anak muda yang suka dengan kisah romasa.

Minggu, 10 Maret 2013

Petang di Taman: Pertunjukkan yang Absurd

SERANG - Sebuah bangku panjang dan lampu taman yang menyala temaram. Seorang lelaki separuh baya terbangun dari tidur karena batuk orangtua. Keduanya membuka percakapan, pertanyaan, tebakan tentang cuaca. Suara guntur menggelegar, dan si kakek mengatakan bahwa hari akan hujan. Sementara si lelaki muda menyangkal karena musim sedang kemarau.

Perdebatan tentang cuaca membuka pementasan "Petang di Taman" oleh anggota baru Gesbica IAIN SMH Banten. Pementasan yang diangkat dari naskah karya Iwan Simatupang ini memang terkesan berat untuk dinikmati. Percakapan para aktor yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana namun sulit dijawab membuat teka-teki yang melibatkan para penonton dalam pertanyaan-pertanyaan dan jawaban sementara. 

Senin, 12 Maret 2012

Merajut Maut: Membaca Antologi Berjalan Ke Utara


(Mengenang Moh. Wan Anwar)




Ada banyak tema yang menjadi rahim bagi lahirnya sebuah puisi. Keberagaman fenomena pada peristiwa sehari-hari, setidaknya menjadi sumur tanpa dasar (pinjam istilah Arifin C. Noer) yang tidak pernah kering digali oleh para pencari kata-kata. Tema cinta, kesunyian, kritik sosial, kecemasan eksistensial hingga kematian—sekadar menyebut beberapa contoh—telah banyak digumuli hingga melahirkan puisi dengan beragam gaya pengucapan.
Kematian sebagai salah satu tema yang terus mengilhami lahirnya puisi pada dasarnya adalah peristiwa keseharian yang sudah akrab dengan manusia. Pada sebuah puisi, maut menjadi sesuatu yang bervariasi dan terus dimaknai terutama oleh para penyair. Kematian yang sudah merupakan hal yang terberi (given) ternyata tidak selesai pada traktat filsafat, eskatologi kitab suci, dan ilmu medis.  Penyair terus menerobos pada wilayah pemaknaan ulang mengenai kematian. Apabila yang pertama mencoba menekan respon subjek diri dengan merumuskan konsep-konsep ajeg dengan pikiran, iman dan reduksi ilmu pengetahuan, maka yang kedua (sengaja?) membiarkannya tetap pada posisinya yang berjarak dari subjek. Pada titik ini bahasa puitik bisa menjadi alternatif yang mungkin dapat mendekatinya dengan alegori dan metafora karena acuan (referen) pada tingkat denotasi selalu timbul dan tenggelam dalam ranah konseptual.

Senin, 13 Februari 2012

Banten di Mata Seorang Pribadi


Judul: Perjumpaan dengan Banten
Penulis: Wan Anwar
Penerbit: Kubah Budaya
Cetakan Pertama: November 2011
Tebal: vi + 232 halaman
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Kertas: Book Paper
ISBN: 978-602-19376-0-0
Harga Rp. 40.000


Tampilan Banten sebagai provinsi yang memiliki masa lalu yang megah telah banyak ditulis dan dijadikan referensi kaum cerdik cendikia yang gandrung akan sejarah. Masa lalu pun terhampar dalam teks seperti hamparan permadani yang mewah dengan kisah kebijakan para sultan dan negosiasi kolonial untuk menguasai pasar yang berakhir dengan penaklukan. Figur orang-orang besar pun mengisi ruang kesadaran pembaca. Selain kemegahan akan masa lalu; kemegahan heroisme mungkin akan terus diwariskan ketika Banten didudukkan dalam posisi ini. Sementara dalam konteks kekinian, kadang-kadang Banten direduksi hanya sebagai daerah yang memiliki otonomi untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri.

Rabu, 04 Mei 2011

Octavio Paz: Puisi dan Suara Yang Lain




 
Judul buku : The Other Voice (Suara Lain)
Penulis      : Octavio Paz
Penerjemah: Max Arifin
Tebal           : 205 halaman
Penerbir      : Komodo Books
Tahun terbit : 2010
ISBN            : 9897-986726-0-X-9

 
Seorang Octavio Paz barangkali memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Di matanya puisi merupakan mikrokosmos yang terus berdialektika dengan jagat besar; tarik tambang yang tak lelah-lelah membetot realitas gerak jaman dan arus waktu sebagai sesuatu yang berada di luar dan terus merangsek masuk pada dunia tekstual. Mendesak penyair untuk berterus mengabarkan dunia yang dihadapinya kepada sidang pembaca dengan suara yang berbeda. Suara yang tidak menuntut pembaca untuk memaknai sesuatu (baca: bahasa) dengan ajeg dan pasti. Pada titik ini kesaksian, cinta, keluhan, celoteh, dan teguran seorang penyair terhadap lingkungan sosial memilih untuk tidak berkata dengan bahasa lantang dan penuh jargon perjuangan. Puisi barangkali hanya gumam yang menepuk pundak kemandegan berpikir dan merasa. Seperti kawan lama yang datang membawa berita yang baru bukan karena isinya tetapi karena diucapkan dengan pengucapan berbeda.