Oleh: Wahyu Arya
Jika ada sebuah jalan bercabang dan Si
Musafir berdiri di antara keduanya, pilihan jalan yang satu tentu akan
menggugurkan jalan yang lain. Begitu pula dengan jalan yang ditempuh Syukur A.
Mirhan (selanjutnya SAM) di awal kepenyairannya. Ia lebih memilih jalan sunyi. Si Musafir,
begitu berulangkali ia menyebut dirinya, lebih gandrung pada yang
hening-tenang. Pada jalan itu pula, ia menemukan dirinya sendiri. Ke-diri-an
pun utuh manakala suara-suara, hiruk pikuk kehidupan di luar diri banyak mengalihkan
dari Kekasih atawa Sang Penatap. Sampai di sini, kenalilah diri maka kamu
akan mengenal Tuhanmu, benar ketika Si Musafir selalu dalam keadaan ingat
akan tujuan perjalanannya.






