Senin, 12 Maret 2012

Merajut Maut: Membaca Antologi Berjalan Ke Utara


(Mengenang Moh. Wan Anwar)




Ada banyak tema yang menjadi rahim bagi lahirnya sebuah puisi. Keberagaman fenomena pada peristiwa sehari-hari, setidaknya menjadi sumur tanpa dasar (pinjam istilah Arifin C. Noer) yang tidak pernah kering digali oleh para pencari kata-kata. Tema cinta, kesunyian, kritik sosial, kecemasan eksistensial hingga kematian—sekadar menyebut beberapa contoh—telah banyak digumuli hingga melahirkan puisi dengan beragam gaya pengucapan.
Kematian sebagai salah satu tema yang terus mengilhami lahirnya puisi pada dasarnya adalah peristiwa keseharian yang sudah akrab dengan manusia. Pada sebuah puisi, maut menjadi sesuatu yang bervariasi dan terus dimaknai terutama oleh para penyair. Kematian yang sudah merupakan hal yang terberi (given) ternyata tidak selesai pada traktat filsafat, eskatologi kitab suci, dan ilmu medis.  Penyair terus menerobos pada wilayah pemaknaan ulang mengenai kematian. Apabila yang pertama mencoba menekan respon subjek diri dengan merumuskan konsep-konsep ajeg dengan pikiran, iman dan reduksi ilmu pengetahuan, maka yang kedua (sengaja?) membiarkannya tetap pada posisinya yang berjarak dari subjek. Pada titik ini bahasa puitik bisa menjadi alternatif yang mungkin dapat mendekatinya dengan alegori dan metafora karena acuan (referen) pada tingkat denotasi selalu timbul dan tenggelam dalam ranah konseptual.

Senin, 13 Februari 2012

Banten di Mata Seorang Pribadi


Judul: Perjumpaan dengan Banten
Penulis: Wan Anwar
Penerbit: Kubah Budaya
Cetakan Pertama: November 2011
Tebal: vi + 232 halaman
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Kertas: Book Paper
ISBN: 978-602-19376-0-0
Harga Rp. 40.000


Tampilan Banten sebagai provinsi yang memiliki masa lalu yang megah telah banyak ditulis dan dijadikan referensi kaum cerdik cendikia yang gandrung akan sejarah. Masa lalu pun terhampar dalam teks seperti hamparan permadani yang mewah dengan kisah kebijakan para sultan dan negosiasi kolonial untuk menguasai pasar yang berakhir dengan penaklukan. Figur orang-orang besar pun mengisi ruang kesadaran pembaca. Selain kemegahan akan masa lalu; kemegahan heroisme mungkin akan terus diwariskan ketika Banten didudukkan dalam posisi ini. Sementara dalam konteks kekinian, kadang-kadang Banten direduksi hanya sebagai daerah yang memiliki otonomi untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri.

Rabu, 04 Mei 2011

Octavio Paz: Puisi dan Suara Yang Lain




 
Judul buku : The Other Voice (Suara Lain)
Penulis      : Octavio Paz
Penerjemah: Max Arifin
Tebal           : 205 halaman
Penerbir      : Komodo Books
Tahun terbit : 2010
ISBN            : 9897-986726-0-X-9

 
Seorang Octavio Paz barangkali memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Di matanya puisi merupakan mikrokosmos yang terus berdialektika dengan jagat besar; tarik tambang yang tak lelah-lelah membetot realitas gerak jaman dan arus waktu sebagai sesuatu yang berada di luar dan terus merangsek masuk pada dunia tekstual. Mendesak penyair untuk berterus mengabarkan dunia yang dihadapinya kepada sidang pembaca dengan suara yang berbeda. Suara yang tidak menuntut pembaca untuk memaknai sesuatu (baca: bahasa) dengan ajeg dan pasti. Pada titik ini kesaksian, cinta, keluhan, celoteh, dan teguran seorang penyair terhadap lingkungan sosial memilih untuk tidak berkata dengan bahasa lantang dan penuh jargon perjuangan. Puisi barangkali hanya gumam yang menepuk pundak kemandegan berpikir dan merasa. Seperti kawan lama yang datang membawa berita yang baru bukan karena isinya tetapi karena diucapkan dengan pengucapan berbeda.

Selasa, 09 Maret 2010

Ironi, Kritik, dan Karnavalisasi Diri

Modernitas mungkin masih menjadi cita-cita banyak orang sebagai paradigma intelektual setelah di abad pertengahan rasionalisme terpaksa bungkam di bawah kuasa agama. Setalah itu peradaban dan pikiran seolah terbangun dari tidur panjangnya. Tetapi ada yang terlupakan--bahwa modernitas dengan rasionalisme akhirnya terjebak pada irasionalisme yang lain--yang juga mengakibatkan kemurungan yang lain pula. modernitas dan rasionalisme menggiring pada tindakan efektif namun kadang fatal. Sebuah ironi yang lain segera mengganti ironi sebelumnya.

Kamis, 13 November 2008

SEPETAK SAJAK


PERJALANAN SUNYI

Dalam sunyi perjalanan,
Aku pahami risau daun
Tak dapat menyimpan katakata
Dari setiap percakapan kita.
Hanya waktu yang begitu bengis
Membabat habis sulur malam
Menjaringku dalam kelam.
Saat fajar tiba,
Ia hanya meninggalkan jadah
Dari senggama semesta.

2006
PADA SEHELAI SUNYI

dengan tangan gemetar
ku tulis sajaksajak samar
pada sehelai sunyi
pencarian
pada cahaya remangremang
ku buru percik makna
dalam perih
penciptaan

2007